Posted by: anggaway89 | April 1, 2010

PRINSIP PRINSIP LATIHAN DALAM OLAHRAGA PRESTASI

PRINSIP PRINSIP LATIHAN DALAM OLAHRAGA PRESTASI
Oleh : Dikdik Zafar Sidik

Dalam olahraga prestasi banyak hal yang harus diperhatikan dan dipahami oleh setiap pelatih. Hal ini tentunya terkait dengan tugas dan fungsi (peran) seorang pelatih. Kita mengetahui bahwa fungsi seorang pelatih antara lain : sebagai sahabat / teman atlet, sebagai peletak dasar disiplin atlet, sebagai idola / figur / panutan, sebagai orang tua, sebagai siswa yang harus terus belajar, sebagai manajer, sebagai instruktur, sebagai ilmuwan, sebagai analis, sebagai administrator, sebagai agen promosi, sebagai guru, dan juga sebagai psikolog. Sehingga pelatih dikenal sebagai orang yang harus senantiasa berlandaskan pada “ART AND SCIENCE”.
Kesuksesan seorang pelatih tergantung pada bagaimana ia memerankannya secara maksimal. Banyak disiplin ilmu yang harus dipelajari, dikembangkan, dan kemudian diaplikasikan melalui seni-seni kreasi yang menyebabkan proses latih melatih menjadi lebih efektif dan efesien.
Pada tulisan ini, menguraikan sedikit tentang bagian penting dalam kegiatan latih melatih yaitu bagaimana seorang pelatih memahami dan mampu menerapkan Prinsip –prinsip Latihan dalam pelatihan olahraga prestasi.
Tidak jarang pelatih yang belum mampu menerapkan hal ini. Mungkin, keterbatasan pehaman atau kesulitan dalam bagaimana penerapannya. Mudah-mudahan tulisan ini dapat sedikitnya membantu akan pemahaman hal ini terutama bagi pelaku olahraga.
Banyak sistem yang mempengaruhi perencanaan latihan. Bagaimanapun seorang pelatih dalam menggunakan program latihan untuk atletnya maka harus berpedoman pada prinsip-prinsip latihan. Untuk memahami prinsip latihan ini maka kita coba kaji berdasar pada kajian Ilmu Faal (Fisiologik), Ilmu Jiwa (Psikologik), dan Ilmu Kependidikan (Pedagogik). Secara struktur prinsip ini tergambar seperti berikut :
THE PRINCIPLES OF TRANING PHYSIOLOGICAL PSYCHOLOGICAL PEDAGOGICAL Law of Overload o Individualization o Multilateral Development Law of Specificity o Specialization o Modeling the training process Law of Reversibility o Increasing Demands o Continuous Load Demend o Feasibility o Restoration Active, Conscientious Participation Awareness Variety Psychological Rest Planning and Use System Periodization Visual Presentation – William H. Freeman; 1989 -
HUKUM FISIOLOGIK
Semua sistem latihan dipengaruhi oleh tiga hukum fisiologik, yaitu : hukum OVERLOAD, hukum KEKHUSUSAN (Specificity), dan hukum REVERSIBILITAS (Reversibility). Prinsip-prinsip lainnya disebutkan oleh para pelatih sebagai aspek-aspek yang terkandung dalam tiga prinsip tersebut.
Hukum Overload (Law of Overload)
Hukum ini adalah yang banyak memperbaiki dalam kebugaran seorang atlet, sehingga membutuhkan suatu peningkatan beban latihan yang akan menantang keadaan kebugaran atlet.
Bahwa beban latihan berfungsi sebagai suatu stimulus dan mendatangkan suatu respon dari tubuh atlet. Apabila beban latihan lebih berat daripada beban normal pada tubuh maka tubuh akan mengalami kelelahan sehingga tingkat kebugaran akan menjadi lebih rendah dari tingkat kebugaran normal. Hal ini akan membutuhkan masa pemulihan yang lebih lama. Artinya, pembebanan akan menyebabkan kelelahan, dan ketika pembebanan berakhir, maka pemulihan berlangsung. Jika pembebanan optimal (tidak terlalu ringan dan juga tidak terlalu berat) maka setelah pemilihan penuh tingkat kebugaran akan meningkat lebih tinggi daripada tingkat sebelumnya.
Beban Latihan
Pemulihan
Efek Latihan / Overkompensasi
Kelelahan / Adaptasi
Efek latihan (overcompensation) pada tubuh adalah semua yang terjadi dalam latihan. Bagaimanapuun, jika pembebanan latihan terlalu ringan, efek latihan setelah pemulihan akan menjadi kurang dari yang diharapkan. Jika pembebanan latihan terlalu besar / berat maka kondisi akan kembali seperti semula.
—— : latihan terlalu berat ; : latihan yang adekuat;
: latihan terlalu ringan
Dari pembebanan yang terjadi seperti gambar di atas maka jika latihan terlalu ringan tingkat kelelahannya rendah / sedikit, waktu pemulihannya singkat, dan efek latihannya (stimulus baru) sedikit dan terlalu awal. Apabila latihan terlalu berat maka tingkat kelelahan tinggi / banyak membutuhkan pemulihan yang lama, sehingga efek latihannya rendah dan stimulus baru menjadi terlambat.
Beban Latihan
Kelelahan / Adaptasi
Pemulihan
Efek Latihan / Overkompensasi
Contoh :
1. Seorang atlet melakukan latihan beban dengan tujuan latihan Kekuatan Maksimal.
Hasil parameter angkatan Squat-nya 200 kg untuk 2 repetisi. Yang ia lakukan kemudian adalah melakukan angkatan seberat 80 kg dengan jumlah pengulangan yang sedikit (mis. 4 rep), maka latihannya dikatakan sebagai latihan yang terlalu ringan untuk latihan kekuatan maksimal atau dikatakan latihan yang terlalu berat apabila ia harus melakukan angkatan seberat 180 kg dengan jumlah repetisi sebanyak 5 kali.
2. Hasil tes 200 meter waktunya 22 detik.
Untuk latihan Daya tahan Kecepatan ia diminta lari dengan kecepatan per 200-nya 38 detik sebanyak 6 repetisi. Maka latihan tersebut dikatakan latihan yang terlalu ringan untuk tujuan latihan tersbut. Dan, apabila ia diminta untuk menyelesaikan latihan per 200 m-nya dengan kecepatan lari 23 detik sebanyak 6 pengulangan, maka latihannya terlalu berat.
Prinsip Individualisasi
Reaksi masing-masing atlet terhadap suatu rangsangan latihan terjadi dengan cara yang berbeda. Perbedaan tersebut karena usia dan jenis kelamin. Perencanaan latihan dibuat berdasarkan perbedaan individu atas kemampuan (abilities), kebutuhan (needs), dan potensi (potential). Tidak ada program latihan yang dapat disalin secara utuh dari satu individu untuk individu yang lain. Program latihan yang efektif hanya cocok untuk individu yang telah direncanakan.
Pelatih harus mempertimbangkan faktor usia kronologis dan usia biologis (kematangan fisik) atlet, pengalaman dalam olahraga, tingkat keterampilan (sklill), kapasitas usaha dan prestasi, status kesehatan, kapasitas beban latihan (training load) dan pemulihan, tipe antropometrik dan system syaraf, dan perbedaan seksual (terutama saat pubertas).
Prinsip Pengembangan Multilateral
Pengembangan menyeluruh ini berkaitan dengan keterampilan gerak secara umum (general motor ability) dan pengembangan kebugaran sebagai tujuan utama yang terjadi pada bagian awal dari perencanaan latihan tahunan.
Prinsip ini harus menjadi focus utama dalam melatih anak-anak dan atlet junior. Hal ini adalah merupakan langkah pertama dari rangkaian pendekatan untuk latihan olahraga (prestasi).
Hukum Kekhususan (Law of Specificity)
Hukum kekhususan adalah bahwa beban latihan yang alami menentukan efek latihan. Latihan harus secara khusus untuk efek yang diinginkan. Metode latihan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan latihan. Beban latihan menjadi spesifik ketika itu memiliki rasio latihan (beban terhadap latihan) dan struktur pembebanan (intensitas terhadap beban latihan) yang tepat.
Intensitas latihan adalah kualitas atau kesulitan beban latihan. Mengukur intensitas tergantung pada atribut khusus yang dikembangkan atau diteskan. Kecepatan berlari diukur dalam meter per detik (m/dtk) atau langkah per detik (m/sec). kekuatan diukur dalam pound, kilogram, atau ton. Lompat dan lempar diukur oleh tinggi, jarak, atau jumlah usaha. Intensitas usaha berdasarkan pada persentase usaha terbaik seseorang, seperti tergambar pada table berikut (menurut Freeman) : KERJAKEKUATANDENYUT NADI*Maksimal95 – 10090 – 100190 +100Sub Maksimal85 – 9580 – 90180 – 19090Tinggi75 – 8516575Sedang65 – 7570 – 8015060Ringan50 – 6550 – 70Rendah30 – 5030 – 5013050INTENSITASPERSENTASEENDURANCE VO2 Max.
*berdasarkan pada persentase denyut nadi maksimal atlet, tergantung individu.
Volume latihan yaitu jumlah seluruh latihan (dalam istilah) waktu, jarak, akumulasi berat dan sebagainya ketika durasi beban adalah porsi beban yang disediakan untuk satu unit atau tipe latihan. Contoh : Seorang pelari menyelesaikan program latihannya untuk untuk satu unit selama 60 menit, maka volume latihannya adalah 60 menit. Atau ia berlari sejauh 10 km, maka volume latihannya adalah 10 km. Seorang lifter mampu berlatih dalam satu unit latihan dengan Squat 150 kg x 5 rep x 3 set ; Bench Press 50 kg x 8 rep x 3 set ; Heel Raise 100 kg x 6 rep x 3 set ; dan Pull Down 60 kg x 5 rep x 3 set. Maka volume latihannya adalah Squat = 2250 kg ; Bench Press = 1200 kg ; Heel Raise = 1800 kg ; Pull Down = 900 kg. Menjadi 2250 + 1200 + 1800 + 900 = 6150 kg (6.15 ton).
Prinsip Spesialisasi
Prinsip ini melatih kapasitas dan teknik yang dibutuhkan untuk aktivitas khusus atau nomor khusus. Contoh, dalam atletik seorang pelempar membutuhkan latihan kekuatan khusus dan juga teknik khusus pada masiing-masing nomor lempar. Seorang perenang membutuhkan kecepatan dan daya tahan kecepatan serta daya tahan kekuatan sesuai dengan nomornya, begitu pula teknik yang dibutuhkannya.
Semuanya itu harus dilakukan secara khusus setelah melewati fase latihan yang menyeluruh (multilateral).
Prinsip Model Proses Latihan
Model ini dimanfaatkan untuk mengembangkan pola-pola latihan yang erat dengan kaitannya dengan kebutuhan kompetisi. Pola yang paling sulit membutuhkan waktu yang cukup lama (tahunan) agar menjadi sempurna. Hal ini tentunya harus diawali dengan kemampuan pelatih dalam menganalisa setiap kompetisi. Contoh dalam olahraga permainan, bagaimana pola-pola permainan itu harus berjalan sesuai dengan kebutuhan setiap kompetisi (saat menghadapi lawan berat atau lawan yang lebih ringan), bagaimana pola pertahanan dan penyerangan yang baik dan harmonis..
Hukum Reversibilitas (Law of Reversibility)
Hukum ini adalah bahwa tingkat kebugaran akan menurun jika pembebanan latihan tidak dilanjutkan (continued). Ada istilah bahwa “if you don’t use it, you lose it“.
Prinsip Meningkatkan Tuntutan
Dalam pembebanan latihan, tuntutan ini adalah bahwa beban latihan harus berkelanjutan jika kebugaran umum dan khusus atlet terus ditingkatkan, beban latihan harus ditingkatkan secara regular (progressive overload).
Rasio latihan adalah kritis. Seorang pelatih harus menentukan berapa lama pemulihan dibutuhkan dalam suatu sesi dan antar sesi.
Beban LatihanSIKLUS MIKROKebugaran
Prinsip Melanjutkan Tuntutan Beban
Prinsip ini mengungkapkan bahwa atlet jangan terlalu lama berhenti berlatih. ketika pemuncakan sedang berlangsung dan beban latihan dikurangi maka hasilnya akan menurunkan kondisi. Oleh karena itu, hati-hati pada fase ‘tapering’ dan ‘tapering off’. Kapan dan bagaimana fase itu harus berlangsung?
Prinsip Kemungkinan dapat terjadi dengan mudah (Feasibility)
Prinsip ini menyatakan bahwa beban latihan yang telah direncanakan haruslah realistic. Tujuan latihan tidak boleh mengakibatkan rusaknya atau hancurnya prestasi atlet yang disebabkan oleh tujuan yang tidak realistic. Hal ini bukan saja merusak secara fisik, akan tetapi juga akan berakibat pada kondisi psikologik. Tujuan latihan haruslah sesuai dengan kemampuan seseorang (atlet) yang tentunya berdasar pada hasil tes parameter yang direncanakan dan dilaksanakan secara periodik sesuai kebutuhan setiap tahapan sehingga prestasi menjadi berkembang, tidak mengecilkan hati atau gagal.
Istirahat (Restoration)
Restorasi adalah pemulihan dari suatu beban latihan yang tinggi. Masa istirahat (interval) sama pentingnya dengan latihan. Latihan yang berat atau latihan dengan intensitas yang
tinggi maka harus diikuti dengan proses pemulihan yang cukup lama, jika latihan dilakukan dengan intensitas yang rendah maka pemulihan berlangsung cukup singkat.
Setiap atlet akan memiliki kemampuan pemulihan yang berbeda. Pemulihan sangat tergantung pada kemampuan fitness seseorang. Semakin tinggi kemampuan fitness (terutama) kemampuan daya tahan jantung dan otot, maka ia akan memiliki kemampuan pemulihan yang relatif lebih singkat/pendek (cepat pulih).
Komponen LatihanMasa Istirahat dalam Unit LatihanKeteranganKelenturanSingkatBerlangsung kurang dari 2′Kecepatan Gerak (SAQ)Singkat – SedangBervariasi untuk setiap pengulangannya, karena harus melakukan dalam keadaan ‘fresh’Kekuatan MaksimalCukup LamaBerlangsung antara 3′ – 5′ per setKekuatan Yang CepatSedang – lamaBerlangsung antara 2′ – 3′ per setDaya Tahan KekuatanSingkat – SedangBerlangsung antara 1′ – 2′ per set Daya Tahan AerobSingkatTergantung metode lathan yang digunakan, DNL 120 – 150Daya Tahan Anaerob (Anaerobe Threshold)Cukup LamaTergantung metode lathan yang digunakan, DNL 170 <
Istirahat Aktif (Active Rest)
Istirahat aktif adalah bentuk istirahat (juga digunakan dalam fase transisi) yang berupa aktifitas fisik secara ringan, seperti jogging atau aktifvitas olahraga yang lain selain spesialisasi kecabangannya. Hal ini akan membantu pemulihan dan menjaga / memelihara kebugaran fisik atlet.
HUKUM PSIKOLOGIK
Prinsip Aktif, Partisipasi Sungguh-sungguh (Active, Conscientious Participation)
Prinsip ini mengandung makna bahwa untuk menghasilkan prestasi yang maksimal atlet harus terlibat secara aktif dalam proses latihan yang telah dipilihnya.
Prinsip ini sering luput dari perhatian atlet dan juga pelatih. Atlet berpartisipasi secara pasif, hanya mengikuti saja apa yang diperintahkan atau menunggu pemberian motivasi dari pelatih tanpa didasari atas kesungguhan untuk melakukan latihan bahwa latihan adalah suatu kebutuhan.
Latihan adalah suatu bentuk kerja sama antara atlet dan pelatih yang mengandung resiko. Atlet harus memahami tujuan latihan dan rencana yang telah dsusun oleh pelatih. Idealnya, atlet harus membantu dalam merencanakan program latihan (menentukan tujuan latihan dan target prestasi).
Tidak ada pelatih yang selalu mengetahui bagaimana reaksi tubuh dan pikiran atlet terhadap rangsangan latihan yang diterimanya. Atlet harus memberikan kualitas umpan balik dan bekerja sama dengan pelatih untuk mencapai efek latihan yang optimal.
Prinsip Kesadaran (Awareness)
Prinsip ini menunjuk pada kebutuhan bahwa pelatih menjelaskan pada atlet apa yang terlibat dalam program latihan, apa yang menjadi tujuan latihan, dan bagaimana mencapainya. Dalam hal ni juga atlet harus menyadari akan posisinya sebagai orang yang juga harus berpartisipasi aktif dalam perencanaan dan evaluasi latihan.
Prinsip Variasi (Variety)
Kompleksnya latihan dan tingginya tingkat pembebanan dalam latihan untuk sukses membutuhkan variasi bentuk latihan dan metode latihan agar tidak terjadi kejenuhan / kebosanan (boredom) atau basi (staleness). Faktor kebosanan ini akan menjadi kritis apabila kurang bervariasi seperti pada gerakan (hanya) lari saja yang secara teknik tidak begitu kompleks (terbatas) dan membutuhkan faktor fisiologik.
Prinsip Istirahat Psikologik (Psychological Rest)
Saat kelelahan terjadi seorang atlet akan mengalami ketegangan mental atau ketegangan psikologis (psychological strain), bukan hanya kelelahan fisik saja. Oleh karena itu, selain harus meningkatkan kemampuan fisik menjadi istimewa, harus pula mampu mengalihkan situasi yang akan mengakibatkan munculnya tekanan-tekanan (stress) seperti pada kompetisi atau latihan. Bagian ini penting untuk membantu proses istirahat psikologis.
HUKUM PEDAGOGIK
Prinsip-prinsip yang ada dalam hukum ini akan membantu atlet dan pelatih untuk lebih memaknai proses pembelajaran / pelatihan melalui pendidikan.
Prinsip Perencanaan dan Pemanfaatan system (Planning and Use of System)
Prinsip ini membutuhkan apa yang disebut dengan disain program latihan yang sistematis dan efesien, dari program jangka panjang sampai dengan unit latihan yang dibutuhkan oleh setiap atlet secara individu.
Prinsip ini membutuhkan ketelitian, kehati-hatian, dan mempertemukan semua kebutuhan latihan secara efektif.
Melalui prinsip ini, atlet dan pelatih mengalami proses pembelajaran yang selalu sistematis dan terencana.
Prinsip Periodisasi (Periodization)
Prinsip periodisasi adalah mengembangkan program latihan melalui seri-seri dari setiap siklus atau tahapan berdasarkan pada standar prestasi setiap cabang olahraga. Prinsip ini terkait dengan perencanaan program latihan yang akan disusun.
Tahapan latihan yang lazim dimanfaatkan adalah Tahap Persiapan (Persiapan Umum dan Persiapan Khusus), Tahap Kompetisi (Pra Kompetisi dan Kompetisi Utama), dan Tahap Transisi.
Prinsip ini mengajak pelatih untuk senantiasa manjalani proses melalui tahapan yang jelas dan teratur.
Prinsip Presentasi Visual (Visual Presentation)
Prinsip ini mencoba untuk memberikan informasi latihan yang sejelas mungkin kepada atlet, sewaktu-waktu, audio-visual dapat diimanfaatkan untuk membantu atlet dalam memahami materi latihan yang telah, sedang, dan atau akan diberikan dalam proses latihannya.
Proses pembelajaran/pendidikan seperti ini penting bagi atlet untuk bias lebih memahami apa yang seharusnya dilakukan dan yang cukup penting adalah bagaimana seorang atlet mampu mengoreksi sendiri (self correction) apa yang menjadi hal penting dalam meningkatkan prestasinya.
Prinsip-prinsip latihan yang dikaji berdasarkan tiga disiplin ilmu itu penting sekali bagi pegangan para pelatih untuk lebih memahami tuntutan dan kebutuhan latihan agar menjadi lebih efektif dan efesien.
Referensi :
William H. Freeman. Peak When It Count. Los Altos : Tafnews Press. 1989.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: