Posted by: anggaway89 | May 24, 2010

Pernafasan Manusia

Fungsi utama paru-paru yaitu untuk pertukaran gas antara darah dan atmosfer
(West, 1974). Pertukaran gas tersebut bertujuan untuk menyediakan oksigen bagi
jaringan dan mengeluarkan karbon dioksida. Kebutuhan oksigen dan karbon dioksida
terus berubah sesuai dengan tingkat aktivitas dan metabolisme seseorang, tapi pernapasan harus tetap dapat memelihara kandungan oksigen dan karbon dioksida tersebut (Guyton & Hall, 1996).
Untuk melaksanakan fungsi tersebut, pernapasan dapat dibagi menjadi empat
mekanisme dasar, yaitu:
1.    Ventilasi paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara antara alveoli dan atmosfir
2.    Diffusi dari oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan darah
3.    Transport dari oksigen dan karbon dioksida dalam darah dan cairan tubuh ke dan dari sel
4.    Pengaturan ventilasi (Guyton & Hall, 1996)

Ventilasi Paru
Ventilasi merupakan suatu proses pemindahan udara inspirasi ke dalam alveolar
(Astrand, 1970). Ventilasi paru tersebut dipengaruhi oleh:
1.    Volume paru
2.    Resistensi terhadap aliran yang terjadi di dalam saluran nafas
3.    Sifat elasitik atau daya kembang paru dan dinding dada (Sodeman, 1995)
4.    Pada saat beraktivitas, ventilasi meningkat pula sesuai dengan beratnya aktivitas
tersebut (Astrand, 1970).
Volume paru normal sangat dipengaruhi oleh ukuran sistem pernapasan dan usia.
Volume paru pria juga lebih besar daripada wanita. Pada saat gerak badan, ambilan
oksigen dapat mencapai 4 – 6 liter per menit dan volume udara inspirasi per menit dapat
meningkat sampai dua puluh kali lipat. Keadaan ini dicapai dengan peningkatan volume
tidal dan frekwensi pernapasan (Horisson, 1997).

Daya Kembang paru-paru (Compliance)

Compliance atau daya kembang paru adalah perubahan volume per liter yang
disebabkan oleh tiap perubahan satu unit cmHg (Astrand, 1970). Daya kembang paru
juga tergantung pada ukuran paru. Jadi daya kembang bayi lebih kecil daripada orang
dewasa, dan daya kembang orang yang berbadan kecil juga berbeda dengan daya
kembang orang yang berbadan besar (Guyton & Hall, 1996).

Mekanisme Dasar Pengembangan dan Pengempisan Paru
Paru-paru, baik pada saat ekspirasi maupun inspirasi, dapat dikembangkan dan
dikonstraksikan dengan dua cara, yaitu dengan gerakan turun dan naik dari diafragma
untuk memperbesar atau memperkecil diafragma dan depresi dan elevasi costa untuk
meningkatkan dan menurunkan diameter anteroposterior dari rongga dada (Guyton &
Hall, 1996; Astrand, 1970).
Pada pernapasan normal dan tenang biasanya hanya memakai gerakan dari
diafragma. Selama inspirasi, kontraksi dari diafragma akan menarik permukaan bawah
paru ke bawah. Kemudian selama ekspirasi, diafragma akan berelaksasi dan sifat elastis
daya lenting paru, dinding dada dan perut akan menekan paru-paru. Selama bernapas
hebat, bagaimanapun tenaga elastik tidak cukup untuk menyebabkan ekspirasi cepat yang
diperlukan, sehingga perlu kontraksi otot perut, yang mendorong isi perut ke atas
mendorong dasar dari diafragma (Guyton & Hall, 1996; Patton, 1989)
Mekanisme kedua untuk mengembangkan paru adalah dengan mengangkat
rangka iga. Pengembangan paru ini karena pada posisi istirahat, iga miring ke bawah ke
arah kolumna spinalis. Tetapi bila rangka iga dielevasikan, tulang iga dan sternum secara langsung maju menjauhi spinal, membentuk jarak anteroposterior dada ± 20% lebih besar selama inspirasi maksimal daripada ekspirasi. Oleh karena itu otot-otot yang
meninggikan iga dapat diklasifikasikan sebagai otot inspirasi dan otot yang menurunkan
iga sebagai otot ekspirasi. Otot yang paling penting untuk mengangkat iga adalah M.
Intercostalis eksterna (Guyton & Hall, 1996).

Mekanisme Dasar Pengembangan dan Pengempisan Paru
Uji fungsi paru terbagi atas dua kategori, yaitu uji yang berhubungan dengan
ventilasi paru dan dinding dada, serta uji yang berhubungan dengan pertukaran gas. Uji
fungsi ventilasi termasuk pengukuran volume paru-paru dalam keadaan statis atau
dinamis. Uji fungsi paru ini dapat memberikan informasi yang berharga mengenai
keadaan paru, walaupun tidak ada uji fungsi paru yang dapat mengukur semua
kemungkinan yang ada. Metode sederhana untuk meneliti ventilasi paru adalah merekam volume pergerakan udara yang masuk dan keluar dari paru, dengan proses yang dinamakan spirometri, dengan menggunakan spirometer. Dari spirometri didapatkan dua istilah yaitu volume dan kapasitas paru (Guyton & Hall, 1996; Astrand, 1970).

Volume Paru
Berdasarkan gambar di atas, volume paru terbagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1.    Volume Tidal adalah volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi pada setiap kali pernapasan normal. Besarnya ± 500 ml pada rata-rata orang dewasa.
2.    Volume Cadangan Inspirasi adalah volume udara ekstra yang diinspirasi setelah volume tidal, dan biasanya mencapai ± 3000 ml.
3.    Volume Cadangan Eskpirasi adalah jumlah udara yang masih dapat dikeluarkan
dengan ekspirasi kuat pada akhir ekspirasi normal, pada keadaan normal besarnya ± 1100 ml.
5.    Volume Residu, yaitu volume udara yang masih tetap berada dalam paru-paru setelah ekspirasi kuat. Besarnya ± 1200 ml (Guyton & Hall, 1996; Astrand, 1970).

Kapasitas Paru
Kapasitas paru merupakan gabungan dari beberapa volume paru dan dibagi
menjadi empat bagian, yaitu:
1.    Kapasitas Inspirasi, sama dengan volume tidal + volume cadangan inspirasi.
Besarnya ± 3500 ml, dan merupakan jumlah udara yang dapat dihirup seseorang
mulai pada tingkat ekspirasi normal dan mengembangkan paru sampai jumlah
maksimum.
2.    Kapasitas Residu Fungsional, sama dengan volume cadangan inspirasi + volume
residu. Besarnya ± 2300 ml, dan merupakan besarnya udara yang tersisa dalam paru pada akhir eskpirasi normal.
3.    Kapasitas Vital, sama dengan volume cadangan inspirasi + volume tidal + volume
cadangan ekspirasi. Besarnya ± 4600 ml, dan merupakan jumlah udara maksimal
yang dapat dikeluarkan dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi paru secara
maksimal dan kemudian mengeluarkannya sebanyak-banyaknya.
4.    Kapasitas Paru Total, sama dengan kapasitas vital + volume residu. Besarnya ± 5800 ml, adalah volume maksimal dimana paru dikembangkan sebesar mungkin dengan inspirasi paksa (Guyton & Hall, 1996; Astrand, 1970).
5.    Volume dan kapasitas seluruh paru pada wanita ± 20 – 25% lebih kecil daripada
pria, dan lebih besar pada atlet dan orang yang bertubuh besar daripada orang yang bertubuh kecil dan astenis (Guyton & Hall, 1996).

Makna dari Volume dan Kapasitas Paru
Pada orang normal volume udara dalam paru bergantung pada bentuk dan ukuran
tubuh. Posisi tubuh juga mempengaruhi volume dan kapasitas paru, biasanya menurun
bila berbaring, dan meningkat bila berdiri. Perubahan pada posisi ini disebabkan oleh dua
factor, yaitu kecenderungan isi abdomen menekan ke atas melawan diafragma pada posisi
berbaring dan peningkatan volume darah paru pada posisi berbaring, yang berhubungan
dengan pengecilan ruang yang tersedia untuk udara dalam paru (Guyton & Hall, 1996;
Astrand, 1970).
Faktor utama yang mempengaruhi kapasitas vital adalah bentuk anatomi tubuh,
posisi selama pengukuran kapasitas vital, kekuatan otot pernapasan dan pengembangan
paru dan rangka dada (Compliance paru).
Penurunan kapasitas paru dapat disebabkan oleh kelumpuhan otot pernapasan,
misalnya pada penyakit poliomyelitis atau cedera saraf spinal, berkurangnya compliance
paru, misalnya pada penderita asma kronik, tuberkulosa, bronchitis kronik, kanker paru
dan pleuritis fibrosa dan pada penderita penyakit bendungan paru, misalnya pada payah
jantung kiri (Guyton, 1994).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: