Posted by: anggaway89 | May 25, 2010

So Special One!

“Kerja saya di sini telah usai dan kini saatnya saya pergi,” Itulah ucapan seorang Jose Mourinho setelah ia mengantarkan Inter juara Liga Champions di Santiago Bernabeu, ironis memang di saat pesta sedang digelar sang bintang utama justru mengucapkan salam perpisahan.

Saya berani bertaruh Interisti pasti tak bisa sepenuhnya bahagia merayakan gelar treble mereka musim ini, sebab Mourinho dalang di balik skenario indah tersebut bersiap untuk pergi dan entah kapan ia akan kembali lagi.


Berpisah di Bernabeu (c) AP

Ia kini bersiap untuk melangkahkan cerita baru, ia berambisi menaklukan La Liga Spanyol, ladang yang belum dijamahnya, ia berambisi meraih gelar Liga Champions ketiganya di sana sebelum akhirnya akan kembali ke Liga Premier Inggris, kompetisi yang telah mencuri hatinya untuk menjadi cinta sejatinya.

Di balik ucapan dan tingkah lakunya yang selalu penuh kontroversi, Jose memang terbilang memiliki sesuatu yang spesial dalam dirinya, meski awalnya ia sendiri yang memberikan julukan itu (The Special One) namun ia telah membuktikannya, ia memang telah membuktikan ia layak disebut seperti itu.

Ia memperkenalkan dirinya sebagai The Special One pertama kali ketika usai mengantarkan Porto juara Liga Champions di tahun 2004 setelah satu tahun sebelumnya ia menjadikan Porto juara Piala UEFA, julukan yang terdengar sedikit narsis saat itu, karena belum banyak pihak yang mengenalnya, lalu ia pindah ke Inggris bergabung bersama Chelsea.

Bersama Chelsea ia telah mengacak-acak dominasi Manchester United dan Arsenal di Liga Premier dalam 4 tahun sebelumnya, ia langsung menyabet dua gelar Liga inggris dalam dua tahun pertamanya di Stamford Bridge, sayangnya kesabaran untuk bisa menunggu juara Liga Champions tidak dimiliki Roman Abramovich sang pemilik, membuatnya harus pergi.

Tak jadi soal Inter tim papan atas Seri A mau menampungnya, dalam tahun pertama di musim 2008-2009 Piala Super Italia dan Scudetto langsung ia persembahkan, namun banyak pihak yang menyebutnya beruntung karena Inter sedang tanpa lawan saat itu, seusai Seri A tersentak kasus Calciopoli.

Dengan sabar di tahun keduanya ia melalui tugasnya dengan penuh keputusan brilian dan pengorbanan, salah satunya dengan mendatangkan Wesley Sneijder di detik-detik akhir penutupan jendela transfer musim ini, didenda akibat gesture dan kata-katanya yang mencederai wibawa wasit Italia.

Namun kini ia layak berbangga dan terasa lebih spesial sekarang, dalam dua musim ia telah meraih segalanya bersama Inter dalam musim ini, ia menjadikan Inter sebagai klub Italia pertama yang bisa meraih treble winners (tiga gelar dalam satu musim) dan klub kedelapan yang bisa meraih prestasi ini di Eropa.

Tidak hanya itu kemenangan atas wakil Jerman, Bayern Munich, memastikan La Beneamata sebagai asa tunggal Italia berhasil kembali membuat koefisien UEFA nilai kompetisi Seri A unggul dari Bundesliga, Jerman di peringkat UEFA tahun kompetisi ini.

Dengan itu Italia dipastikan tetap bakal mengirimkan 4 wakilnya di Liga Champions musim 2010-2011, seolah ini juga tamparan Mourinho atas hujatan yang publik Italia alamatkan pada dirinya, Italia ditolong oleh seorang Mourinho bersama Inter, benar-benar from ‘Zero to Hero’ seorang Messias bagi Calcio (sepak bola Italia).

Spesialnya lagi gelar penutup yang ia raih menjadikannya sebagai pelatih ketiga yang mampu menjuarai Liga Champions dengan dua klub yang berbeda, caranya pun terbilang luar biasa Inter menumbangkan tiga juara Liga domestik di Eropa musim ini.


Berpesta pora di Nou Camp bersama anak-anak asuhnya (c) Getty Images

Di awali dengan mantan klub yang ia pernah ia latih jawara Premier League Inggris, Chelsea, di babak perempat Final; Raja La Liga, Barcelona, di dua leg babak Semi Final; dan ditutup dengan menumbangkan Deutscher Meister Bundesliga, Bayern Munich di partai Final.

Semua orang boleh tidak setuju dengan gaya bermainnya yang disebut pragmatis, tidak indah, negatif atau apapun itu. Kita tidak bisa menyalahkannya, dia cuman individu yang memang memiliki pandangan seperti itu, dia bebas berkreasi dengan cara dan gayanya sendiri, sama seperti kita semua yang juga memiliki hak kebebasan individu untuk itu.


The Special One kini terasa kian spesial (c) Getty Images

Toh pada akhirnya ia yang menjadi nomor satu di musim ini, sebuah pandangan pragmatis dari seorang Fabio Capello saat itu masih terngiang di benak saya, “Sejarah tidak pernah mencatat prosesnya, namun hasilnya lah yang akan dicatatkan dalam sebuah sejarah,” ada benarnya memang kalau kita merenungkannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: